Tii………nt. Suara klakson mobil megagetkanku.
“Astaghfirullahaladzim… Dimana aku? Ada apa ini?’ kejutku.
“Sorry, Za. Jalanan macet.” Kata Nazar.
“Apa? Gila. Aku jam 04.000 ada janji. Bagaimana bisa kita
terjebak macet seperti ini?’ kataku dengan jengkel.
“Di depan ada truk mogok. Terus mau gimana lagi?’ kata Nazar
dengan wajah innocent.
“Kamu itu gimana? Seharusnya lewat jalan lain kan bisa? Kamu tu tahu Semarang nggak sih? Seandainya
kamu tadi bangunin aku, nggak akan begini kejadiannya” gerutuku.
“Siapa tahu bakal mogok gini?” kata Nazar.
“Oke. Sorry aku telah menyalahkanmu, tapi ingat, aku akan
membencimu apabila teman-temanku marah padaku,” kataku dengan nada marah.
“Belum pernah ada cewek yang marah sama aku sebelumnya. Baru
kali ini ada cewek yang bisa memarahiku. Hebat kamu ya bisa marah denganku,”
kata Nazar dengan nada menghina.
Sebenarnya aku kan luluh
dengan perkataanya karena aku takut dia kan
ikutan marah padaku. Tapi apa peduliku. Yang salah kan dia. Jadi aku harus mempertahankan harga
diriku.
“Pokoknya aku akan tetap menyalahkanmu kalau kedua temanku
marah,”
“Benar tidak mau memaafkanku?’ kata Nazar merayu.
“Masa bodoh,” Jawabku.
***
Sesampainya
di rumah aku langsung menelepon Liana dan Donna. Tapi sial. Handphonenya tida
aktif semua. Apakah mereka benar-benar marah padaku?
Keesokan harinya.
“Zania, kita mau ngomong sama kamu sebentar,” kata Donna
dengan wajah sinis.
Aku melangkah menuju ke bangku mereka dengan penuh perasaan
bersalah.
“Za, kenapa kamu tidak datang kemarin sore? Kamu sengaja
lupa ya?” Kata Liana.
“Tidak.. bukan begitu, masalahnya aku…”
“Kamu kenapa? Kamu sudah tidak suka berteman dengan kami
lagi?” tambah Donna.
“Aku kemarin baru pergi dan…”
“Alah.. apapun alasannya kamu telah meghianati kami,” kata
Donna.
“Dan kami tidak mau berteman dengan orang penghianat seperti
kamu,” sahut Liana.
“Tapi biarkan aku menjelaskan alasannya dulu, tolong,
please….maafkan aku?””kataku.
Donna dan Liana tetap pergi menjauhiku. Erica and the gank
yang sejak tadi melihat pertengkaran ini tersenyum dengan sinisnya
sambil menuju bangkuku.
“Temen-temen maafin aku, dengerin penjelasanku,…. Ha..ha…”
kata Erica menirukan ucapanku untuk mengejekku.
“Emang enak tidak punya teman? Kasihan…” kata Lisa
kembarannya Mona yang se-gank dengan Erica.
Tiba-tiba HP-ku berdering. Ada sms.
Biar menang atau kalah
Sama-sama mendapat
pila
Apabila ada salah
Maafkan aku cinta
Tiba –tiba berdering lagi. Ada sms masuk.
“Zania aku ada di
Jakarta sekarang, ada urusan mendadak. Aku tidak tahu akan kembali kapan.”
Dear Nazar.
Mendadak
dunia ini terasa ampa.Aku selalu murung di kelas sendirian tanpa teman memendam
rasa pahit ini sendiri. Tiada teman untuk berbagi kesedihan ini. Dulu Donna dan
Liana selalu setia mndengarkan isi hatiku. Sekarang mereka seakan pergi ditelan
bumi. Nazar yang biasa membuatku tertawa sekarang bumi juga menelannya. Oh ya
Allah ampuni dosa hambamu ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar