Keesokan harinya. Aku
bersiap-siap pergi ke Bandung.
Campur aduk rasa hati ini. Aku haya ingin ketenangan dan berusaha sabar ikhlas
menerima semua ini. Aku tidak peduli tanggal 6 November ultahku yang ke 17,
masa bodoh dengan sweet seventeen.
“KAK Nia mau ke mana?”
tanya adik kecilku satu-satunya saudaraku.
“Kakak mau pergi. Kamu belum berangkat sekolah?” tanyaku
“Belum. Kakak mau pergi ke mana?” tanya adikku lagi.
“Ke rumah Eyang. Ayo cepat berangkat. Ditunggu pak Ujang di
depan,” kataku.
“Baiklah,” jawab adikku sambil pergi meninggalkan kamarku.
“Zania! Sudah siap?” tanya Om Farhan.
“Udah, Om. Umi, Zania pamit
dulu ya, Assalamualaikum wr.wb,”
“waalaikumsalam wr.wb, hati-hati di jalan ya, salam buat
Eyang”
Mobil melaju menerobos dinginnya udara pagi. Sang mentari
mengiringi laju mobilku dengan sinarnya yang indah.
***
Malam
harinya aku dan Om ku sudah sampai di Bandung.
Udara dingin mulai menyelimuti kota
pegunungan itu. Rumah Eyangku terletak di puncak bukit yang indah. Eyang dan
sepupuku iqbal menyembutku dengan gembira. Kami makan malam bersama dan saling
berbagi cerita. Kemudian sholat Isya’ berjamaah yang di imami Om Farhan, adik
terkecil ibuku yang masih keturunan Arab, Eyang kakungku asli orang arab yang
mendapatkan Utri yang yang asli orang Indonesia pula.
Keesokan
harinya aku bersama sepupuku Iqbal, yang berumur 15 tahun berjalan-jalan dan
melakukan aktivitas menyenangkan seperti pergi ke pasar, memasak bersama dan
memancing. Dia sengaja tidak berangkat ke sekolah karena ingin menemaniku
berlibur. Ibu bapaknya tinggal di Jakarta karena
bekerja di sana.
Dia tidak mau ikut. Dia ingin menemani Eyang di sini. Lama-lama aku jadi lupa
masalahku di Semarang.
Aku jadi merasa bahagia. Semoga aku bisa melupakannya dan tidak sedih lagi.
Amin.
***
Malam ini,
malam tanggal 17, menurut Islam kan
dihitung dari malam sebelum tanggal itu. Hari yang paling aku nantikan selama
ini. Malam ini biasa saja. Aku duduk di taman belakang rumah Eyang. Rumah Eyang
terletak di puncak bukit, jadi aku bisa leluasa melihat seluruh pemandangan kota Bandung.
Kota Bandung ini seperti dilindungi oleh tembok batu yang kuat, karena bukit-bukit
melingkari kota
seperti benteng pertahanan. Tiba-tiba aku ingin membuat puisi untuk hari
kelahiranku ini.
Malam begitu larut
Bulan seakan tersenyum
padaku
Titik titik cahaya
Meneylimuti kota Bandung
yang asri
Udara dingin mulai
turun
Aku ingat
Sekarang tanggal 6
November
24
Sekarang juga sudah
larut malam
Aku tetap setia berada
di sini
Melihat sesuatu
keajaiban alam
Mensyukuri nikmat
Tuhan yang Agung
Aku tak tahu
Apa yang akan terjadi
esok hari
Tiba-tiba, Door! Ada
suara kembang api, siapa yang akan menyalakannya?
Dan…
Happy birth day to you…
Happy birth day to you…
Happy birth day ….Happy birth day…
Sweet seenten
Surprise
Aku terkejut sekali ketika melihat di belakangku Liana,
Nazar, Donna, mereka ada di sini. Nazar membawa kue ulang tahun yang
bertuliskan Happy birth day sweet
seventeen to Zania.
Aku melihat arloji di tangan
kiriku. Pukul 12.05 Aku masih terbengong mematung di tempat. Aku setengah tidak
sadar. Apakah ini mimpi ? Tanyaku dalam hati.
Nazar berjalan menghampiriku. “Zania, happy birth day sweet
seventeen. Aku merindukanmu,” kata Nazar yang membuatku tersihir, membekukan
seluruh tubuhku bersama dinginnya udara malam.
“Me, too,” kataku dengan bibir gemetaran. Nazar melepaskan
jaketnya dan memberikannya kepadaku.
Kemudian Liana dan Donna berjalan ke arahku dengan memegang
kue ultah di tangan Liana.
“Zania, Happy birth day. Lupakan hari kemarin, impikanlah
hari esok,” kata Liana.
“Happy birth day sweet seventeen,” kata Donna
Aku tak tahan, membiarkan air mataku menetes tanpa kusadari
mengalir di kedua pipiku. Aku tidak bisa berkata-apa-apa. Zania yang selama ini
tegar kenapa bisa menangis di saat seperti ini?
“Zania, sekarang tiup lilinnya,” pinta Nazar.
Aku meniup lilin tanpa berkata apa-apa, aku masih syok.
“Boleh aku bertanya?” tanyaku.
“Zania biasa saja kali. Kita kan teman,” kata Donna sambil berjalan
bersama kami semua ke teras belakang.
“Apa yang sedang terjadi? Aku tidak mengerti. Aku harap
salah satu dari kalian ada yang mau menjelaskan ini semua. Aku tidak akan bisa
tenang sebelum semuanya jelas.”
“Oke,” kata Nazar mulai menjelaskan “Ini semua sebetulnya
salah kami, kami yang menyusun rencana kejutan ini untukmu. Tapi masalah kamu
di skors itu sebuah kecelakaan. Itu di luar dugaan kami. Kami sungguh minta
maaf setulusnya dari hati yang terdalam. Tetapi tenang saja. Kami semua sudah
menangkap siapa orang yang telah menfitnahmu. Kamu tak perlu tahu. Itu tidak
penting. Dan sangsi atas dirimu telah dicabut. Kamu bisa mulai berangkat
sekolah besok. Mungkin besok kamu akan tahu sendiri siapa yang tega berbuat
sekeji ini padamu.”
“Semua itu benar.” Kata Liana
menambahkan.
“Zania! Aku dan Liana akan
kedalam sebentar , kamu tunggu disni ya!” kata Donna yang kemudian melangkah
pergi kedalam rumah Eyang.
“ Tapi aku! ….
“Sudahlah tidak papa.” Tambah
Liana yang kemudian manyusulnya pergi.
Aku terdiam menunduk tak tahu harus
berkata apa. Ditempat itu hanya ada aku dan Nazar. Pandangan mataku hanya
terpaku pada kue ulang tahun yang ada didepanku.
“Udaranya dingin ya, sedingin
hatiku yang kacau balau saat ini.” Kata Nazar memulai pembicaraan.
Aku masih tidak mengerti apa yang
dibicarakannya tadi. Bukankah yang hatinya sedang kacau balau sekarang aku.
“Zania ada yang harus ku
bicarakan denganmu! Mulai lusa aku akan tinggal di Jakarta lagi!
Aku terkejut! Aku tak percaya
semuanya! kepalaku kutegakkan, kucoba memberanikan diri melihati wajah Nazar,
aku tahu! Dengan sorot matanya yang parau Nazar
berat hati mengatakan itu. Tanpa
kusadari air mataku manetes lagi.
“Sebenarnya aku adalah anak
tunggal dari keluarga broken. Papa dan mamaku bercerai. Setelah sebulan ikut papaku
di Semarang, mama yang ada di Jakarta sakit-sakitan karenaku. Sekarang
sakit mama semakin parah, dan aku harus menemaninya tinggal di Jakarta. Sebelumnya aku
minta maaf karena tidak memberitahumu lebih dulu, karena aku tidak ingin kamu
ikut larut dalam kesedihanku. Aku sedih sekali ninggalin kamu di Semarang. Kamu adalah
satu-satunya cewek yang membuatku kagum.Tetapi ………….
“Kamu jangan tinggalin aku.”
Sergahku. “Kamu harus berada disampingku selamanya.” sergahku lagi.
“Sudah lah jangan menangis lagi,
kacantikanmu akan hilang kalau kau tetep menangis.” goda Nazar.
“ Aku tak peduli!” Kataku.
“Besok masih ada waktu sehari sebelum
aku pergi ke Jakarta.
Kita bisa menghabiskan waktu bersama dengan kedua temanmu juga.” Kata Nazar
menenangkan.
“Tetapi aku tidak bisa berpisah
denganmu. Aku te…..”
“Cukup Zania. sikapmu yang seperi
ini akan mempersulit keadaan. Aku tahu apa yang kau rasakan karena aku juga
merasakannya. Dan aku berjanji suatu saat aku akan ke Semarang untuk menemuimu.”
“Tetapi aku pasti akan kangen
banget sama kamu,” kataku menyangkal.
“Aku juga,”
“Kenapa secepat ini bertemu dan
berpisah. Aku menyesal telah bertemu denganmu,” kataku.
“Jangan pernah kau sesali
pertemuan ini. Melaluimu aku telah belajar banyak hal. Engkau telah merubah
hidupku, kau membuatku merasakan apa yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.
Thanks Zania very much,”
Aku tak sanggup berkataapa-apa
lagi, terlalu sulit untuk menerima kenyataan ini. Donna dan Liana menghampiriku
dengan membawa 4 piring kecil bersama sendok dan pisaunya.
“Sudahlah, jangan dipikirin.
Enjoy aja. Ikuti saja laju air akan dibawa ke mana kita,” kata Liana.
“Thanks to all. Aku tidak akan
pernah melupakan kejadian malam ini seumur hidupku.,” kataku.
“Untuk merayakan hari jadimu ini,
kita akan ke mana?” tanya Donna.
“Kita muter-muter Bandung aja, sambil makan.
Aku traktir deh. Oke semua?” kata Nazar.
“Tunggu. Tapikan yang Ulang tahun
aku, masa Nazar yang traktir sih?”
“Ya udah. Kamu yang traktir, tapi
yang enak lo, awas kalau nggak enak.”
“Ih iya iya,” jawabku.
Lalu kita semua masuk rumah dan
tidur bersiap menyambut hari esok yang cerah.
***
Keesokan
harinya kami semua melakukan kegiatan sesuai rencana setelah berpamitan pulang
dengan Eyang. Dan langsung kembali menuju
Semarang.
Sesampainya
di rumah alangkah terkejutnya aku. Di dalam kamarku terdapat banyak kado. Aku
buka salah satu kado yang berwarna merah menyala. Ternyata dari Nazar, di
dalamnya terdapat senuah MP4. Seri terbaru dari nokia dan setelah kudengarkan
ternyata berisi murotal al Qur’an yang sama dengan kaset yang kubeli dengannya
kemarin. Di dalamnya juga terdapat surat.
To Zania tersayang yang selalu di sayang Tuhan dan yang empunya surat.
Jangan lupakan Al Qur’an. Aku ingin terus bersamamu.
Email: N4Z4r_aime@yahoo.com
No HP: 0859977665
Alamat: Jalan Pekanbaru nomer 5 Jakarta
Selatan
Terlalu banyak hadiah
hari ini. Terimakasih ya Allah, engkau memang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Engkau telah menjawab pertanyaanku. Apa yang akan terjadi pada orang yang
memfitnahku ya?
Aku terus berangan-angan sambil
melihat atap-atap kamarku yang berhiaskan awan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar