Tampilkan postingan dengan label analisis puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label analisis puisi. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Maret 2013

Analisis Puisi "Derai-derai cemara"


analisis puisi chairil anwar
Derai-derai cemara
Karya Chairil Anwar
Cemara menderai sampai jauh
Terasa hari akan jadi malam
Ada beberapa dahan di tingkap merapuh
Dipukul angin yang terpendam

Aku sekarang orangnya bisa tahan
Sudah beberapa waktu bukan kanak lagi
Tapi dulu memang ada suatu bahan
Yang bukan dasar perhitungan kini

Hidup hanya menunda-nunda kekalahan
Tambah terasing dari cinta dan sekolah rendah
Dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan
Sebelum pada akhirnya kita menyerah





ANALISIS
1. Analisis aspek monolog dan tipografik, subjek lirik dan stilisasi diri, sintatik logik dan semantic ritmik, dan pengungkapan tak langsung dalam puisi Derai-derai cemara.

A. Monolog dan Tipografik
 Monolog
Ø
Yaitu, berbicara dan dimana hanya ada seorang yang berbicara, dan secara keseluruhan dari puisi ini adalah monolog, karena si penyair seperti berbicara sendiri didalam puisi ini. Dan membaca puisi juga termasuk monolog.

 Tipografik
Ø
Sajak ini terdiri dari 3 bait, setiap baitnya terdiri dari 4 larik. Ketiga bait ini memilki tipografi dengan 4 larik setiap baitnya. Pengutaraan sajak ini pun tampak tertib dan tenang: masing-masing bait sepenuhnya menggunakan rima a-b-a-b. Dari gambaran di atas, tampak jelas bahwa dari bait I sampai bait III hadir dengan tipografi lurus dan struktur yang teratur dengan pola rima a-b-a-b, tetapi tidak sama dengan pantun. Tidak ada sampiran, semua larik digunakan oleh penyair sebagai sarana pengantar kepuitisan. Kata dalam sajak ini kebanyakan diisi dengan simbol, citraan, gaya bahasa, dan sarana puitis. Sarana puitik inilah yang digunakan oleh penyair untuk menggambarkan hidupnya yang semakin lemah.


B. Subjek lirik dan stilisasi diri
 Subjek lirik
Ø
yaitu pada larik 6 “sudah beberapa waktu bukan kanak lagi”. Pada otak kita akan terbayang seorang anak-anak dengan sifatnya yang polos, lugu, dan lucu. Tapi, keseluruhan, bukanlah anak-anak yang ada dibenak kita. “Bukan kanak” ditunjang dengan kata-kata pendukungnya, menunjukkan sikap kedewasaan. Ada hal-hal yang tak dapat dipecahkan atau diketahui, hingga ditunjukkannya dalam larik 8 “yang bukan dasar perhitungan kini”.


 Stilisasi diri
Ø
Stilisasi diri adalah jarak atau hubungan antara lirik dengan penyairnya,
yaitu meyatakan telah membentuk suasana kedalaman dan kematangan dari kehidupan si penyair. Semuanya mengarah pada sebuah kepasrahan pada kehendak pencipta-Nya; kematian.,
Pandangan secara keseluruhan bait dapat disimpulkan bahwa penyair hadir sebagai Aku lirik dalam puisi ini.

C. Sintatik logik dan semantic ritmik
 Sintatik logik
Ø
Yaitu, kalimat yang logis dan memiliki struktur kalimat :
“Aku sekarang orangnya bisa tahan”
Dalam bait tersebut tampak logis dan juga terdapat struktur kalimat, dengan membaca bait tersebut seseorang sudah bisa memaknai sendiri, apa yang terkandung dalam bait tersebut.

Ø Semantik ritmik
Yaitu makna bunyi pada puisi. Dan makna bunyi yang ada pada puisi Derai-derai cemara adalah :
Cemara menderai sampai jauh
Terasa hari akan jadi malam
Ada beberapa dahan di tingkap merapuh
Dipukul angin yang terpendam
Dalam bait tersebut terjadi pegulangan bunyi u dan a, yaitu kesimpulan yang diutarakan dengan sikap mengendap, yang sepenuhnya menerima proses perubahan dalam diri manusia yang memisahkannya dari masa lampau. Proses itu begitu cepat, sehingga ada yang tidak diucapkan, sesuatu yang tentunya menganjal di tenggorokan, sebelum pada akhirnya kita akan menyerah.

D. Pengungkapan tak langsung
Ungkapan dalam puisi yang berbeda dengan makna sebenarnya :
“Cemara menderai sampai jauh”, “dipukul angin yang terpendam”, seolah-olah mencitrakan sebuah kehidupan yang mulai lelah. Dengan simbol-simbol seperti dahan, yaitu metafora dari bagian tubuh manusia yang mulai lemah dengan kiasan merapuh. Simbolik malam akan mengimajinasikan pada kesunyian, tempat sedang orang istirahat, dan akhir dari sebuah kehidupan. misalnya malam yang biasanya diidentikkan dengan kesunyian, disangkal dengan suara-suara seperti, menderai dan dipukul.


2. Analisis dengan pendekatan Strata Norma Roman Ingarden

A. Lapis bunyi
Lapis bunyi adalah semua satuan bunyi yang berdasarkan konvensi bahasa tertentu (bahasa Indonesia),hanya saja dalam puisi Derai-derai cemara ini ditunjukan pada bunyi-bunyi yang bersifat khusus. misalnya pada bait:
Aku sekarang orangnya bisa tahan
Sudah beberapa waktu bukan kanak lagi
Tapi dulu memang ada suatu bahan
Yang bukan dasar perhitungan kini
Dalam bait ini terdapat asonasi a dan i.karena pada umumnya dalam sajak itu bunyi-bunyi yang dominan adalah vocal suara a,I dan ,seperti pada bait tersebut yang difungsikan oleh penyair untuk menyatakan ketidakmampuan dia menghadapi kenyataan yang akan datang. Diksi tersebut sangat kental dengan aroma kematian dan kepasrahan. Karena, semula Chairil A. yang selalu menggunakan kata-kata yang bersemangat pada puisi-puisi sebelumnya, kini mulai menyadari akan arti hidup dan penyakitnya Tema pada puisi ini adalah kesadaran akan perjalanan hidup yang selalu akan berakhir dan tak dapat dipungkiri bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati.
B. Lapis arti
 Bait pertama :
Ø
Cemara menderai sampai jauh
Terasa hari akan jadi malam
Ada beberapa dahan di tingkap merapuh
Dipukul angin yang terpendam
Yang artinya adalah kesadaran akan perjalanan hidup yang selalu akan berakhir dan tak dapat dipungkiri bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati.
 Bait kedua :
Ø
Aku sekarang orangnya bisa tahan
Sudah beberapa waktu bukan kanak lagi
Tapi dulu memang ada suatu bahan
Yang bukan dasar perhitungan kini
Yang artinya dengan skemata yang ada pada otak kita akan terbayang seorang anak-anak dengan sifatnya yang polos, lugu, dan lucu. Tapi, secara keseluruhan bait 2, bukanlah anak-anak yang ada dibenak kita. “Bukan kanak” ditunjang dengan kata-kata pendukungnya, menunjukkan sikap kedewasaan “Aku” lirik

 Bait ketiga :
Ø
Hidup hanya menunda-nunda kekalahan
Tambah terasing dari cinta dan sekolah rendah
Dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan
Sebelum pada akhirnya kita menyerah
Pada bait ini terasa kental sekali “aroma kematian” dan kepasrahan dari si Aku lirik. Isi dalam puisi ini, sangat patut kita renungkan sebagai nasihat dan pepatah hidup kita. Seperti, kata-kata hidup hanya menunda kekalahan telah menjadi semacam pepatah dan terasa tidak asing di telinga kita. Kiasan kekalahan sangat menarik untuk diperhitakan; padahal yang kita kenal selama ini adalah hidup hanya menunda kemenangan. Kekalahan adalah simbol dari kepasrahan dan sangat kental dengan aroma kematian

C. Lapis objek
Objek objek yang ada dalam puisi ini adalah : aku, pohon cemara, angin, dahan, cinta, dan sekolah.
Pelaku atau tokoh : aku
Latar waktu : malam hari
Latar tempat : rumah
“Hidup hanya menunda kekalahan….” semacam kesimpulan yang diutarakan dengan sikap mengendap, yang sepenuhnya menerima proses perubahan dalam diri manusia yang memisahkannya dari masa lampau

D. Lapis dunia
Bait pertma kalau dikaitkan dengan larik-larik sebelumnya, seolah-olah mencitrakan sebuah kehidupan si Aku yang mulai lelah. Dengan simbol-simbol seperti dahan, yaitu bagian tubuh manusia yang mulai lemah dengan kiasan merapuh. Simbolik malam akan mengimajinasikan pada kesunyian, tempat sedang orang istirahat, dan akhir dari sebuah kehidupan; telah dimanfaatkan si penyair untuk sebuah proses kematangan

Bait kedua dan ketiga Kata 'teraslng' mengandung rasa terpenoil, menunjukkan rasa keterasingan; sedangkan kata 'jauh' menunjukkan jarak yaitu angan-angan masa kanak-kanak yang cemerlang penuh harapan di masa yang akan datang, tetapi kenyataannya hidup ini penuh penderitaan. Sehingga kata jauh lebih tepat daripada kata terasing.
Demikianlah, diksi/pilihan kata sungguh dicermati pengarang untuk menghasilkan kata berjiwa. Maka analisis terhadap pilihan kata pengarang akan sangat membantu pemahaman sebuah puisi.


Analisis Puisi “Burung Hitam” Karya WS. Rendra


Burung Hitam

Burung hitam manis dari hatiku
Betapa cekatan dan rindu sepi syahdu
Burung hitam adalah buah pohonan
Burung hitam di dada adalah bebungaan
Ia minum pada kali yang disayang
Ia tidur di daunan bergoyang
Ia bukanlah dari duka meski si burung hitam
Burung hitam adalah cintaku yang terpendam

WS.Rendra

1.Memparafrase Puisi

“Burung Hitam”

Cinta adalah salah satu perasaan yang menggebu dalam jiwa. Ini juga yang diungkapkan seorang penyair kepada sang pujaan hatinya melalui puisinya yang berjudul “Burung Hitam”.
Diceritakannya lewat puisi tersebut, penyair (WS.Rendra) mengungkapkan perasaan cintanya dengan melambangkan burung hitam. Burung hitam disini adalah bermakna kecintaan sang penyair kepada pujaan hati yang begitu kuat, diselimuti dengan kesetiaan yang bersifat tak bisa diterka dan terkesan misteri atau dirahasiakan.
Namun sang penyair merasa hal itu sebagai kebahagiaan hatinya yang diungkapkannya lewat kata manis dari hatiku. Perasaan itu ia alami dengan menggelora dan begitu cepat ia merindukan sang pujaan hati ketika dilanda kesepian karena tidak berjumpa.
Sang penyair juga memaknai burung hitam sebagai kesenangan atau kegembiraan hatinya yang terus berkecamuk dengan rangkaian kata burung hitam di dada adalah bebungaan. Jadi ia selalu merasa burung hitam itu sebagai gambaran hatinya yang selalu berbunga-bunga karena senang gembira.
Saat sang penyair mulai merasa kedahagaan yang kuar biasa karena perasaan cintanya itu, saat itu pula ia bertandang ke suatu tempat untuk melihat pujaan hatinya sebagai rasa kangen yang terluapkan. Ini dapat dilihat dari baris ia minum pada kali yang disayang.
Perasaan cinta bisa membuat orang susah tidur, ini juga yang mencoba diungkapkan sang penyair pada pembaca. Ia merasa tak pernah bis tidur dengan nyaman karena ada yang menggoyang-goyangkan hatinya sehingga ada rasa gundah dan gelisah di jiwanya. Lewat kata-kata ia tidur di daunan bergoyang. Bagaimana mungkin seseorang dapat tidur di atas tempat yang digoyan-goyangkan?
Dalam puisi ini sang penyair menggunakan burung hitam sebagai lambang atau simbol yang mewakili perasaannya pada sang pujaan hati. Dia gunakan kata hitam sebagai sikap yang sulit diterka, berani, kuat dan bentuk penegasan. Bukan dari lambang kesedihan atau duka yang biasanya orang artikan.
Jadi pada intinya sang penyair menempatkan kata atau kalimat kunci di akhir baris puisinya. Burung hitam adalah cintaku yang terpendam. Ini bermaksud sang penyair menggunakan burung hitam sebagai lambang yang mewakili perasaannya tentang rasa jatuh cintanya kepada seseorang. Satu hal yang jarang orang gunakan untuk mewakili perasaan yang sedang jatuh cinta. Sebuah puisi yang sangat menarik.

2. Menafsir Simbol atau Lambang serta Maknanya

Burung hitam manis dari hatiku
Bermakna :
- burung adalah hewan yang perkasa dan bijaksana, sering disebut binatang yang memiliki sifat setia kepada pasangannya
- hitam adalah bermakna keberanian, ketenangan, kuat, misteri dan memperlihatkan ketegasan
- manis adalah satu hal yang indah dan rupawan, menyenangkan
Sehingga pada baris pertama bermakna ungkapan jiwa sang penyair yang mempunyai perasaan kepada sang pujaan hati di dalam hatinya, dia memiliki keberanian yang kuat dan dengan kesetiaan dia mengungkapkan perasaannya itu sehingga terasa manis ataupun menyenangkan.
Betapa cekatan dan rindu sepi syahdu
Bermakna :
- cekatan adalah pergerakan yang sangat cepat
- rindu sepi syahdu adalah penggambaran suasana merindu kepada pujaan hati saat kesepian melanda sang penyair dan semuanya itu dinikmatinya dengan syahdu
Sehingga pada baris ke dua ini bermakna perasaan penyair yang bergolak di jiwanya mengalir begitu cepat dan nada kerinduaan saat ia berada di kesepian. Sang penyair selalu merasa kerinduan yang begitu cepat melanda jiwanya saat tak bertemu sang pujaan hatinya.
Burung hitam di dada adalah bebungaan
Bermakna :
- burung adalah hewan yang perkasa dan bijaksana, sering disebut binatang yang memiliki sifat setia kepada pasangannya
- hitam adalah bermakna keberanian, ketenangan, kuat, misteri dan memperlihatkan ketegasan
- bebungaan adalah salah satu hal yang membuat hati berdebar-debar dan sangat menyenangkan
Sehingga pada baris ke tiga ini bermakna sang penyair mengungkapkan tentang perasaan cinta kepada sang pujaan hati yang sangat menggelora di dalam dadanya.

Ia minum pada kali yang disayang
Bermakna :
- minum adalah simbol seseorang yang melepaskan dahaganya karena haus
- kali yang disayang adalah suatu tempat yang diyakini penyair mampu melepaskan rasa dahaga saat merasa sangat kehausan
Sehingga pada baris ke empat ini bermakna ketika sang penyair mulai merasakan dahaga akan cinta dari pujaan hatinya itu maka tempat untuk melepaskan dahaganya itu ya seorang pujaannya itu.
Ia tidur di daunan bergoyang
Bermakna :
- tidur di daunan bergoyang adalah melambangkan diri penyair yang tidak sulit tidur karena ada hal yang mengganggu hatinya
Sehingga pada baris ke lima ini bermakna sang penyair yang tidak bisa tidur karena ada kegundahan dan keresahan hati saat memikirkan pujaan hatinya.

Ia bukanlah dari duka meski si burung hitam
Bermakna :
- si burung hitam bermakna satu ungkapan jiwa sang penyair tentang perasaannya yang memberanikan diri mengagumi pujaan hatinya dengan kesetiaan
Sehingga pada baris ke enam ini bermakna ungkapan jiwa sang penyair yang mengungkapkan perasaannya kepada pujaan hati dengan sifat setia dan menyembunyikan perasaannya tersebut dan meski dilambangkan dengan hitam namun tak mengartikannya dengan kesedihan melainkan keuatan dan ketegasan dari perasaan itu sendiri.

Burung hitam adalah cintaku yang terpendam
Bermakna :
- burung hitam adalah satu ungkapan jiwa sang penyair tentang perasaannya yang memberanikan diri mengagumi pujaan hatinya dengan kesetiaan
Sehingga pada baris terakhir ini bermakna sebuah ungkapan jiwanya yang terpendam dan ia lambangkan dengan burung hitam yang berarti perasaannya kepada sang pujaan hatinya yang begitu menggebunamun tetap kuat tersimpan dalam hati.

3. Menafsir Amanat
Amanat yang dapat di ambil dari puisi yang berjudul “Burung Hitam” karya WS.Rendra ini adalah tekadang orang salah mengartikan sebuah simbol atau lambang yang digunakan sang penyair dalam sebuah puisi. Itu dikarenakan suatu sistem yang sudah konvensional untuk mengartikan suatu simbol tertentu.
Di sinilah sang penyair mencoba memberikan satu jalan alternatif bagi kita untuk mencoba membuat puisi dengan simbol atau lambang yang memiliki arti yang berbeda dengan arti atau makna yang telah disepakati oleh masyarakat.
Sungguh pesan moral yang sangat baik ketika W.S Rendra membuat puisi yang menceritakan kecintaanya pada pujaan hati yang tidak ia gembor-gemborkan atau perlihatkan. Itu memberikan satu pandangan kepada kita bahwa jika kita mencintai seseorang tidak perlu ditunjuk-tunjukkan secara berlebihan. Namun yang sewajarnya saja atau dipendam dalam hati yang meyakini suatu saat pasti sang pujaan hati akan mengetahuinya jika sudah saat yang dihendakiNya.

4. Gaya Bahasa atau Majas
a. Simile
Ialah membandingkan dua hal yang berbeda dengan menggunakan kata pembanding (serupa, seperti, laksana, bagai…)
Dalam puisi yang berjudul “Burung Hitam” ini tidak terdapat majas simile.
b. Metafora
Ialah membandingkan dua hal yang berbeda tetapi tidak menggunakan kata pembanding.
Dalam puisi yang berjudul “Burung Hitam” ini terdapat majas metafora, dalam kutipan sebagai berikut :
- Burung hitam adalah cintaku yang terpendam
Di baris ini penyair membandingkan rasa cintanya dengan burung hitam.
- Burung hitam adalah buah pohonan
Di baris ini penyair membandingkan burung hitam dengan pepohonan.
- Burung hitam di dada adalah bebungaan
Di baris ini sang penyair juga membandingkan burung hitam di dada dengan bebungaan.
c. Personifikasi
Ialah memperlakukan benda seperti layaknya manusia yang bersifat klise, epigon atau plagiat
Dalam puisi yang berjudul “Burung Hitam” ini terdapat majas personifikasi, dalam kutipan sebagai berikut :
- Ia tidur di daunan bergoyang
Di baris ini penyair membandingkan daun yang bergoyang seperti sifat manusia.
d. Repetisi
Ialah bentuk perulangan kata yang terdapat dalam puisi’
Dalam puisi yang berjudul “Burung Hitam” ini terdapat repetisi, dalam kutipan sebagai berikut :
- Burung hitam manis dari hatiku
Burung hitam adalah buah pohonan
Burung hitam di dada adalah bebungaan
Burung hitam adalah cintaku yang terpendam
Di baris ke satu, ke tiga, ke empat dan ke delapan penyair mengulang kata burung hitam.
- Ia minum pada kali yang disayang
Ia tidur di daunan bergoyang
Ia bukanlah dari duka meski si burung hitam
Di baris ke lima, ke enam dan ke tujuh penyair mengulang kata ia.


Jumat, 08 Maret 2013

PERLAMBANGAN PADA PUISI "Kemis Pagi" - Taufik Ismail


A.      PENGERTIAN PERLAMBANGAN
Dalam kehidupan sehari-hari, kita mengenal misalnya merah putih sebagai lambang Negara kita. Demikian juga gambar-gambar yang terdapat di dada Burung Garuda lambang Negara kita: gambar bintang melambangkan sila pertama dari Pancasila, yakni Ketuhanan Yang Maha Esa. Gambar rantai melambangkan Kemanusiaan yang adil dan beradab sebagai sila kedua. Gambar pohon beringin sebagai lambang sila ketiga, yakni persatuan Indonesia. Gambar kepala banteng melambangkan kerakyatan sebagai sila keempat. Kemudian gambar padi dan kapas sebagai lambang sila kelima, yakni keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Dari contoh tersebut kita mengetahui bahwa pengertian simbolisasi atau perlambangan dalam puisi tidak mengacu pada gambar atau benda yang menggantikan pengertian tertentu akan tetapi mengacu pada kata atau lambang kebahasaan lain yang digunakan untuk menggantikuan suatu pengertian atau hal lain. Misalnya, kata melambangkan pengertikan pengertian berani atau marah, kata kelabu dalam minggu kelabu menggantikan suasana sedih.

B.       TUJUAN PERLAMBANGA DALAM PUISI
Dengan lambang-lambang diharapakan pengertian yang ada dibalik lambang itu menjadi lebih konkret, lebih nyata dan mudah ditangkap oleh pancaindera.
Misalnya keberanian dan kesucian yang dilambangkan dengan merah putih. Baik keberanian dan kesucian sangat abstrak. Kedua sifat tersebut merupakan keputusan pikiran setelah menyaksikan sesuatu tindakan atau sifat sesuatu benda. Selanjutnya walaupun merah dan putih juga merupakan sifat, tetapi wujudnya atau realitasnya dapat kita tangkap dengan indera mata.
Lambang-lambang pada puisi erat sekali dengan tujuan penyair untuk menjadikan puisi-puisinya lebih mudah ditangkap oleh pembaca. Atau dengan kata lain erat sekali dengan pengimajian.



C.      MAJAS-MAJAS YANG DIGUNAKAN DALAM PERLAMBANGAN
Biasanya majas yang digunakan dalam perlambangan kata adalah majas metonimia dan majas metafora.
1.         Majas Metonimia
              Menurut Altenbernd (1970:21) bahwa metonimia adalah penggunaan atribut sebuah objek atau penggunaan sesuatu yang sangat dekat berhubungan dengannya untuk menggantikan objek itu. Metonimi juga sering disebut dengan pengganti nama.
Contoh puisi: “Kemis Pagi” karya Taufiq Ismail
Hari ini kita tangkap tangan-tangan Kebatilan
Yang selama ini mengenakan seragam kebesaran
Dan menaiki kereta-kereta kencana
Dan menggunakan meterai kerajaan
Dengan suara lantang memperatas-namakan
Kawula dukana yang berpuluh-juta

Hari ini kita serahkan mereka
Untuk digantung di tiang Keadilan
Penyebar bisa fitnah dan dusta durjana
 Bertahun-tahun lamanya

Mereka yang merencanakan seratus mahligai raksasa
Membeli benda-benda tanpa-harga di manca-negara
Dan memperoleh uang emas beratus-juta
Bagi diri sendiri, di bank-bank luar negeri
Merekalah penganjur zina secara terbuka
 Dan menistakan kehormatan wanita, kaum dari ibu kita

Hari ini kita tangkap tangan-tangan Kebatilan
 Kebanyakan anak-anak muda berumur baru belasan
 Yang berangkat dari rumah, pagi tanpa sarapan
Telah kita naiki gedung-gedung itu
Mereka semua pucat, tiada lagi berdaya
Seorang ketika digiring, tersedu
Membuka sendiri tanda kebesaran di pundaknya
Dan berjalan perlahan dengan lemahnya.


1966
Karya:
~Taufiq Ismail~
Benteng
Dalam puisi ini digambarkan penggunaan majas metonimia yang terdapat pada frase ”tangan-tangan kebatilan” adalah untuk mengganti ‘penyelewengan-penyelewengan’ kereta-kereta kencana untuk mengganti mobil-mobil mewah.
2.         Majas Metafora
Metafora adalah bahasa kiasan seperti perbandingan hanya tidak menggunakan kata pembanding, seperti, bagai, laksana, seumpama, dan sebagainya. Menurut Becker, metafora adalah melihat sesuatu dengan perantaraan benda lain.
Contoh puisi: petikan puisi Padamu Jua karya Amir Hamzah dalam bait kedua
Kaulah kandil kemerlap
pelita jendela di malam gelap
melambai pulang perlahan
sabar, setia selalu.
Dalam puisi ‘Padamu Jua’ Amir Hamzah mempersamakan “Kaulah” (Tuhan) dengan “Kandil” (lilin). Dengan kata lain Tuhan adalah penerang atau sumber cahaya bagi manusia, jadi Tuhan dilihat melalui sifat-Nya yang Maha Penerang.

D.      MANFAAT PERLAMBANGAN PADA PUISI
Perlambangan mempunyai efek yang sangat kuat untuk menimbulkan bayangan-bayangan yang mudah ditangkap oleh pancaindra. Perlambangan menjadikan sesuatu yang semula abstrsak menjadi konkret. Itulah sebabnya perlambangan sering sekali dimanfaatkan oleh para penyair untuk lebih mengefektifkan puisi-puisinya.
Hanya perlu kita ketahui, perlambangan tersebut sangat individual sifatnya, artinya tidak semua lambang yang sama mempunyai makna yang sama di dalam berbagai puisi dan bagi setiap penyair. Karena itu menghadapi lambang-lambang dalam puisi, kita dituntut mengembangka imajinasi kita untuk menghubung-hubungkannya dengan hal-hal diluar puisi tersebut.





DAFTAR PUSTAKA

            Suharianto, S. 2009. Pengantar Apresiasi Puisi. Semarang : Bandungan Institute.
            Pradopo, Rahmat Djoko. 1993. Pengkajian Puisi. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
……….http://one.indoskripsi.com/2010/03/judul-makalah/apresiasi puisi/unsur-unsur-puisi. diakses pada tanggal 8April 2012 7.37 pm.
………http://subandowo.blogspot.com/2008/08/analisis-unsur-puisi-fisik.html.diakses pada tanggal 8 April 2012 8.50 pm.