Jumat, 08 Maret 2013

KETIDAKLANGSUNGAN EKSPRESI PUISI (Strata Norma,Semiotika Riffaterre)


1.      KETIDAKLANGSUNGAN EKSPRESI PUISI

Dikemukakan oleh Riffaterre (1978:1) bahwa puisi itu dari dahulu hingga sekarang selalu berubah karena evolusi selera dan konsep setetik yang selalu berubah dari periode ke periode. Ia menganggap bahwa puisi adalah sebagai salah satu wujud aktivitas bahasa. Puisi berbicara mengenai sesuatu hal dengan maksud yang lain. Artinya, puisi berbicara secara tidak langsung sehingga bahasa yang digunakan pun berbeda dari bahasa sehari-hari. Jadi, ketidaklangsungan ekspresi itu merupakan konvensi sastra pada umumnya. Karya sastra itu merupakan ekspresi yang tidak langsung, yaitu menyatakan pikiran atau gagasan secara tidak langsung, tetapi dengan cara lain (Pradopo, 2010:124).
Ketidaklangsungan ekspresi itu menurut Riffaterre (1978:2) disebabkan oleh tiga hal, yaitu penggantian arti (displacing of meaning), penyimpangan arti (distorting of meaning), dan penciptaan arti (creating of meaning). Ketiga jenis ketidaklangsungan ini jelas-jelas akan mengancam representasi kenyataan atau apa yang disebut dengan mimesis.
Landasan mimesis adalah hubungan langsung antara kata dengan objek. Pada tataran ini, masih terdapat kekosongan makna tanda yang perlu diisi dengan melihat bentuk ketidaklangsungan ekspresi untuk menghasilkan sebuah pemaknaan baru (significance).

a. Penggantian Arti (displacing of meaning)
Penggantian arti ini menurut Riffaterre disebabkan oleh penggunaan metafora dan metonimi dalam karya sastra. Metafora dan metonimi ini dalam arti luasnya untuk menyebut bahasa kiasan pada umumnya. Jadi, tidak terbatas pada bahasa kiasan metafora dan metonimi saja. Hal ini disebabkan oleh metafora dan metonimi itu merupakan bahasa kiasan yang sangat penting hingga dapat mengganti bahasa kiasan lainnya. Di samping itu, ada jenis bahasa kiasan yang lain, yaitu simile (perbandingan), personifikasi, sinekdoke, epos, dan alegori.
Metafora itu bahasa kiasan yang mengumpamakan atau mengganti sesuatu hal dengan tidak mempergunakan kata pembanding bagai, seperti, bak, dan sebagainya.
Metonimi merupakan bahasa kiasan yang digunakan dengan memakai nama atau ciri orang atau sesuatu barang untuk menyebutkan hal yang bertautan dengannya.
Analisis penggantian arti pada puisi “Nafas Pertama” :
Nafas Pertama
Karya : Sibok Srengenge

Dengan semesta cinta
kautiup aku ke rongga bola kaca
napasmu menjelma udara di ruang hampa
dan aku mengembara tanpa rupa

Terkurung di dalam gelembung
yang sesungguhpun luas namun terbatas
terasing dari hening abadi
gemuruh ruh meluruh tubuh
jadi sekutu rubuh

Napasmu nyusup menadur denyut di relung jantung
dihalau dan dihela denyutmu darahku mengalir
dari dan ke jantung yang kaujadikan hulu dan hilir
Dipantulkan dinding jantungku denyutmu bergema
mengecup urat syaraf yang tidur
Dibisiki denyutmu jantungku berjaga
menyalur gerak ke sekujur

Hidup adalah napasmu
mengalir di dalam tubuhku

1999
Dalam puisi tersebut terdapat “gelembung yang sungguh luas namun terbatas” merupakan lambang dari keterbatasan, sepertinya terlihat bebas namun sebenarnya gerak-geriknya terbatas. Seperti bayi yang masih berada dalam rahim.
·         Metafora. Misalnya, “hidup adalah napasmu” maksudnya hidup seseorang bergantung pada setiap hembusan napas, “dinding jantung” maksudnya jantung manusia.
·         Allegori. Misalnya, “rongga bola kaca”.
·         Personifikasi. Misalnya, “napasmu menjelma”, “napasmu nyusup”, “jantungku berjaga”, “denyutmu bergema”, “mengecup urat syaraf yang tidur”.
Dalam puisi untuk memberi gambaran yang jelas, untuk menimbulkan suasana yang khusus untuk membuat lebih hidup gambaran dalam pikiran dan penginderaan dan juga untuk menarik perhatian, penyair juga memberikan gambaran angan/pikiran (citraan).
Citra penglihatan contohnya : “aku mengembara tanpa rupa”, “terkurung di dalam gelembung”
Citra gerak contohnya: “kautiup aku ke rongga bola kaca”, “napasmu menjelma”, “napasmu nyusup, “dipantulkan dinding jantungku”, “dibisiki denyutmu.”
Citra pendengaran contohnya : “gemuruh ruh”
b. Penyimpangan Arti (distorting of meaning)
Penyimpangan bahasa secara evaluatif atau secara emotif dari bahasa biasa ditujukan untuk membentuk kejelasan, penekanan, hiasan, humor, atau sesuatu efek yang lain. Riffaterre (1978:2) mengemukakan bahwa penyimpangan arti disebabkan oleh tiga hal, yaitu pertama oleh ambiguitas, kedua oleh kontradiksi, dan ketiga oleh nonsense.
Pertama, ambiguitas disebabkan oleh bahasa sastra itu berarti ganda (polyinterpretable), lebih-lebih bahasa puisi. Kegandaan arti itu dapat berupa kegandaan arti sebuah kata, frase ataupun kalimat.
Kedua, kontradiksi berarti mengandung pertentangan disebabkan oleh paradoks dan atau ironi. Paradoks merupakan suatu pernyataan yang berlawanan dengan dirinya sendiri, atau bertentangan dengan pendapat umum, tetapi kalau diperhatikan lebih dalam sesungguhnya mengandung suatu kebenaran, sedangkan ironi menyatakan sesuatu secara berkebalikan, biasanya untuk mengejek atau menyindir suatu keadaan.
Ketiga, nonsense adalah kata-kata yang secara linguistik tidak mempunyai arti sebab hanya berupa rangkaian bunyi, tidak terdapat dalam kamus. Akan tetapi, puisi nonsense itu memiliki makna. Makna itu timbul karena adanya konvensi sastra, misalnya konvensi mantra. Nonsense berfungsi untuk menimbulkan kekuatan gaib atau magis, untuk mempengaruhi dunia gaib. Nonsense banyak terdapat dalam puisi mantra atau puisi yang bergaya mantra.

Analisis Penyimpangan Arti pada puisi
(1)   Ambiguitas
Ambiguitas ini disebabkan oleh bahasa sastra itu bermakna ganda (polyinterpretable), apalagi di dalam puisi. Ambiguitas ini dapat berupa kata, frase, klausa, ataupun kalimat. Hal ini disebabkan oleh sifat puisi yang berupa pemadatan.
Analisis Puisi :
Kenangan Seperempat Abad Silam
Karya : Ahmad Syubbanuddin

jalan-jalan masih berdarah, lika pohon
berkabut dalam risik gelisah, riuh pertempuran
menghambur hancur ke pelukanku semalaman, dan…

Aku terlunta memandang pematang tubuhku penuh ilalang
halilintar menggelepar, bayang-bayang kematian terbentang
juntaian bunga api, bilur fajar pagi, dan kilau cahaya galaksi
merayakan kesepian panjang. Dan seperti tak pernah mengenalmu
senantiasa, kuciptakan kembali busur kiblat untuk mengungsi
dari puing-puing, juga retakan waktu yang berangkat tua
menyentuh ulu hatiku dengan sisa kenangan, seperempat abad silam :
alunan dzikir, samudera takbir, dan gemerincing gerimis muram
berpendaran dari sayatan hari-hariku menjadi rintihan puisi

Di lereng tebing ruhaniku, serpihan masa kanak-kanak itu melukiskan gelombang tangis nyeri pada gari,
doa-doa para sufi beterbangan. meniti tangga-tangga dan pintu langit ampunanmu
rasi bintang-bintang menyisih dari pusaran lambung matahari
deru angin berhamburan membelah pecah imanku yang menganga
tapi seperti Ibrahim, aku masih menemukan isyarat dan getar rahasia
wajah pualam rembulan, hamparan laut kelam, kemudian kesunyian
di kejauhan, seribu purnama menyepuh berhelai-helai air mataku
yang tergerai dan berdarah, mencium sajadah dan hulu tanah

menara-menara masjid menjulang, ayat-ayat suci bermekaran
di tengah kolam teratai yang bertasbih perih dalam rongga dadaku
seperti orang alim, kuterima gulungan lumpur dan gosong rawa-rawa
juga semenanjung karang, perahu para perusuh yang datang dari jauh
melewati metabolisme darah untuk menyalahkan serat api yang angkuh
kelak melumuri separoh kota menjadi kilang minyak,  kau seduh dengan gembira
jeritan caci-maki, lengking gelak-tawa dan rangkaian panjang selongsong senjata
mengapakah perkampungan miskin yang papa kauhanguskan juga menjadi arang
dan menyekapku di tengah kepulauan negeri, dihujani arak serta ledakan perang?

kini, kulupakan kenangan seperempat abad silam masa kanak-kanak yang syahdu:
peisisir bendungan dengan tanah segar, laut ganggang dan mendung bagai salju
Semuanya berakhir: para pemimpin memaksa jalan pikiranku menjadi serdadu dan…

Cirebon, 1999-2000

Dalam puisi, sebuah kata tidak hanya mengandung aspek denotasi, bukan hanya berisi arti yang ditunjuk saja, masih ada arti tambahannya yang ditimbulkan oleh asosiasi-asosiasi yang keluar dari denotasinya. Misalnya, penyair lebih memilih kata “serdadu” daripada tentara, kata “pematang tubuhku” dinilai penyair lebih apik daripada kata badanku.  Frasa “kilau cahaya galaksi” dinilai  lebih bermakna daripada kata cahaya langit. “bunga api” labih bagus daripada percikan api. Selain itu “alunan dzikir” dinilai lebih mengena daripada suara dzikir.
baris kalimat yang mempunyai tugas ganda : meghubungkan bagian yang mendahuluinya dan bagian berikutnya atau bagian yang mengikutinya (Suharianto, 2009 : 30 ). Dalam puisi tersebut ada baris yang berupa kalimat atau kata yang masih merupakan kelanjutan dari baris sebelumnya, namun dipisah dalam baris yang berbeda. Hal tersebut dilakukan karena untuk menonjolkan makna yang ada dalam setiap baris tersebut. Contoh :

di kejauhan, seribu purnama menyepuh berhelai-helai air mataku
yang tergerai dan berdarah, mencium sajadah dan hulu tanah

(2)   Kontradiksi
Seringkali puisi itu menyatakan sesuatu secara kebalikannya. Hal itu untuk membuat pembaca berpikir, hingga pikiran pembaca terpusat pada apa yang dikatakan di dalam sajak. Kontradiksi atau pertentangan ini disebabkan oleh paradoks dan ironi.
Analisis Puisi :
SUJUD
Mustofa Bisri
Bagaimana kau hendak bersujud
Pasrah
Sedang wajahmu yang bersih
Sumringah
Keningmu yang mulia
dan indah
Begitu pongah
Minta sajadah
Agar tak menyentuh
tanah
Apakah kau melihatnya
Seperti iblis saat menolak
menyembah bapakmu
Dengan congkak
Tanah hanya patut diinjak
Tempat kencing dan berak
Membuang ludah dan dahakl
Atau paling jauh hanya
Lahan pemanjaan
Nafsu serakah dan tamak?
Apakah kau lupa
Bahwa tanah adalah bapak
Dari mana ibumu dilahirkan
Tanah adalah ibu
Yang menyusuimu
Dan memberi makan
Tanah adalah kawan
Yang memelukmu dalam kesendirian
Dalam perjalanan panjang
Menuju keabadian?
Singkirkan saja sajadah mahalmu
Ratakan keningmu
Latakan heningmu
Tanahkan wajahmu
Pasrahkan jiwamu
Biarlah rahmat agung
Alloh membelaimu
Dan terbanglah, kekasihku!

Paradoks mengandung arti bertentangan, seperti tampak pada bait pertama, baris /bagaimana kau hendak bersujud/ pasrah/ sedang wajahmu yang bersih/ sumringah/ begitu pongah/ minta sajadah/ agar tak menyentuk tanah/. Seseorang yang mau bersujud tetapi minta tidak menyentuh tanah. Selanjutnya pada bait kedua, penyair menyindir dengan pertanyaan yang di dalamnya berisi pernyataan-pernyataan iblis yang tidak mau bersujud kepada Adam (Iblis menolak perintah Alloh). Selanjutnya, pada bait ketiga, penyair mengingatkan kepada pembaca /apakah kau lupa/ bahwa tanah adalah bapak/ dari mana ibumu dilahirkan/ tanah adalah ibu/ yang menyusuimu/ dan seterusnya.
(3)   Nonsense
Nonsense adalah kata-kata yang secara linguistik tidak mempunyai arti, sebab hanya berupa rangkaian bunyi, tidak terdapat dalam kamus. Akan tetapi, di dalam karya sastra, nonsense itu tetap bermakna dalam arti memiliki makna berdasarkan konvensi sastra, misalnya konvensi mantra. Digunakan kata-kata yang bernonsense itu ditujukan untuk menimbulkan kekuatan gaib atau magis, berhubungan dengan dunia mistik, bisa juga disebut puisi sufistik.
Analisis Puisi :
AMUK
Sutardji Calzoum Bahri
….. aku bukan penyair sekedar
aku depan
depan yang memburu
membebaskan kata
memanggilMu
pot pot pot
pot pot
kalau pot tak mau pot
biar pot semua pot
mencari pot
pot
hei Kau dengar manteraku
Kau dengan kucing memanggilMu
Izukalizu
Mapakazaba itasatali
tutulita
papaliko arukabazaku kodega zuzukalibu
tutukaliba dekodega zamzam logotokoco
zukuzangga zegezegezezukuzangga zege
zegeze zukuzangga zegezegeze zukuzang
ga zegezegeze zukuzangga zegezegeze zu
kuzangga zegezegeze aahh…..!
mama kalian bebas
carilah tuhan semaumu
Kata-kata seperti pot, izukalizu, mapakazaba, itasatali, tutulita, papaliko arukabazaku kodega zuzukalibu, dan seterusnya adalah contoh kata-kata yang nonsense. Di sinilah terjadinya penyimpangan arti tersebut.
c. Penciptaan Arti (creating of meaning)
Penciptaan arti merupakan konvensi kepuitisan yang berupa bentuk visual yang secara linguistik tidak mempunyai arti, tetapi menimbulkan makna dalam sajak (dalam karya sastra). Jadi, penciptaan arti ini merupakan pengorganisasian teks di luar linguistik. Termasuk di dalam penciptaan arti ini adalah pembaitan, enjambement, persajakan (rima), tipografi, dan homologues. Pembaitan adalah pengaturan bait-bait; Enjambement bermakna pemenggalan kata-kata pada baris yang berbeda; Rima dimaksudkan sebagai pengaturan bunyi pada akhir baris; Tipografi berarti penyusunan baris-baris dalam keseluruhan sajak; Homologues adalah bentuk kata yang sama pada baris-baris yang sejajar (misalnya pada pantun).

Analisis Penciptaan Arti pada puisi “Ngung Cak” :
Ngung Cak
Karya Danarto

Ng
Ngung
ngung ngung
ngung ngung ngung
ngung ngung ngung ngung ngung
ngung ngung ngung ngung
cak cak cak cak cak cak
cak cak cak cak cak
cak cak cak cak
cak cak cak
cak cak
kIst
kIst
kIst
kIst
kIst
kIst
kIst
kIst
kIst kIst
kIst

Dalam puisi Ngung Cak karya Danarto, terdapat persamaan konsonan yaitu Aliterasi [ng] pada bait Ngung ngung ngung ngung ngung.
Aliterasi [c] dan [k] pada larik Cak cak cak cak cak cak.
Aliterasi [k], [l],[s],[t] pada bait Klst.
Selain aliterasi, juga terdapat asonansi yaitu persamaan vocal yaitu asonansi [u] pada bait
Ngung ngung ngung ngung ngung ngung.
Asonansi [a] pada larik Cak cak cak cak cak cak

Puisi Ngung Cak memiliki kode-kode leksikal yang sulit untuk dipahami secara gamblang. Hal ini dikarenakan puisi tipografi ini hanya terdiri dari 3 kata saja yaitu ngung cak dan Klst. Dan ketiga kata tersebut bukan merupakan kata yang memiliki arti, ketiganya hanya ujaran bunyi. Untuk membantu memahami kode-kode leksikal maka dijabarkan sebagai berikut :
(1) ngung berarti tiruan bunyi sesuatu yang berdengung. Dalam puisi ngung cak terdapat 2 ngung yang berbeda, “ngung” dan “Ngung” dalam penulisan EYD Bahasa Indonesia huruf capital diawal kata berfungsi sebagai ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan dan kitab suci. Selain itu juga sering digunakan sebagai nama gelar kehormatan, keturunan dan keagamaan yang diikuti nama orang.
(2) cak didalam kamus Bahasa Indonesia edisi ketiga Balai Pustaka disebutkan bahwa cak berarti tiruan bunyi mengecap makanan, ukuran sebesar lengkungan ujung jari kedua belah tangan dan cak juga berarti tarian yang berlatar cerita Ramayana, dilakukan oleh puluhan orang laki-laki bertelanjang dada yang berperan sebagai pasukan kera yang menyuarakan bunyi “cak”, “cak” sepanjang pertunjukan kecak. Cak pada puisi ngung cak ini menggunakan kode leksikal ketiga yaitu cak pada tari kecak yang merupakan symbol kebaktian manusia kepada Tuhan Yang Maha Esa. Cak yang berulang-ulang dalam puisi merupakan makna dan perulangan bunyi yang ada di tari Kecak.
(3) Klst tidak ditemukan arti kata dalam kamus.
 Jika ditinjau dari segi prakmatiknya ada sesuatu makna yang ingin disampaikan dalam tiga kata yang dirangkai. Sebagai pengapresiasi atau pembaca awal puisi tersebut, maka dengan segera akan timbul pemikiran bahwa puisi tersebut serupa dengan tari Kecak. Dalam hal ini maka pengapresiasi menarik kesimpulan bahwa pilihan kata cak Danarto dimaksudkan sama dengan makna pengucapan “cak cak” tari Kecak yang digunakan sebagai tari ritual persembahan kepada Tuhan. Hal ini juga dapat dilihat dari susunan penari yang melingkari satu pusat sambil memujanya.
Sedangkan ngung adalah bunyi berdengung yang bisa diapresiasikan sebagai doa yuang dipanjatkan kepada Tuhan. Ngung yang berdengung karena suara yang berulang-ulang dan dalam waktu yang tidak singkat sama seperti setelah menyaksikan pementasan tari Kecak, maka di telinga akan masih berdengung. Dapat pula diimplementasikan ketika manusia tak henti berdoa dan doa itu sampai kepada Tuhan. Danarto membuat makna Tuhan dengan kode di bait 1, dengan hanya menuliskan satu kata “Ng” bertanda Tuhan itu hanya satu.
Klst merupakan kata yang belum diketahui makna sebenarnya ataupun maksud Danarto memilih empat huruf yang dirangkai, dan dua huruf diantaranya saling berdekatan sesuai abjad. Dalam puisi pengapresiasi memaknainya sebagai manusia (dilihat dari bagian tipografi yang berada di bawah) dan mengingat juga bahwa puisi ini tentang hubungan manusia selalu berada di bawah kekuasaan Tuhan.
Bentuk puisi yang dibuat Danarto menyerupai layang-layang putus tidak dibuat begitu saja tanpa maksud. Danarto ingin menyampaikannya dalam bentuk sedemikian rupa untuk lebih menciptakan makna dan suasana tertentu.
Puisi Ngung Cak terdiri dari rima sempurna yang pengulangan bunyi terjadi apabila bunyi vocal, diftong, dan konsonan yang mengikutinya memiliki kesamaan bunyi atau seluruh suku akhirannya sama bunyinya. Rima sempurna juga bisa dikatakan rima penuh. “Ngung ngung ngung”, “cak cak”, “Klst” vokal, diftong dan konsonan sama persis setiap lariknya.
Penulisan tipografi, pada puisi Ngung Cak karya Danarto ini memang lebih ditekankan pada bentuk pemilihan kode leksikal dan bentuk tipografinya, sehingga dengan terdapat tiga kata “ngung”, “cak” dan “klst”, maka tidak ditemukan majas, citraan, dan hal-hal yang berkaitan dengan pemaknaan secara tersurat.

2.      TEORI STRATA NORMA

KAJIAN TEORI
Puisi itu adalah sebab yang memungkinkan timbulnya pengalaman ( Wellek, 1968: 150). Analisis puisi berdasarkan fenomenologis terdiri dari beberapa strata (lapis) norma. Masing-masing norma menimbulkan lapis norma dibawahnya. Rene wellek (1968:151) mengemukakan analisis Roman Ingarden, seorang filsusf Polandia, di dalam bukunya Das Literarische Kunstwerk (1931) ia menganalisis norma-norma diantaranya lapis bunyi, lapis arti, lapis dunia imaji pengarang, lapis dunia yang dilihat dari sudut pandang  tertentu yang implisit, dan lapis metafisika.
      a.      Lapis Bunyi
Lapis bunyi dalam sajak adalah semua satuan bunyi yang didasarkan atas konvensi bahasa tertentu. Lapis bunyi dalam puisi mempunyai tujuan untuk menciptakan efek puitis dan nilai seni. Mengingat Bunyi dalam sajak bersifat estetik yang berfungsi untuk mendapatkan keindahan dan tenaga ekspresif. Dengan kata lain bunyi juga memilki fungsi sebagai alat penyair untuk memperdalam ucapan, menimbulkan rasa, menimbulkan bayangan angan yang jelas, dan sebagainya.  Dalam sejarah puisi, bunyi pernah menjadi unsur kepuitisan yang paling dominan (utama) pada sastra Romantik (abad ke-18 dan 19). Bahkan Paul Verlaine, seorang simbolis, mengatakan bahwa musiklah yang paling utama dalam puisi. Slametmuljana menambahkan bahwa tiap kata (dalam puisi) menimbulkan asosiasi dan menciptakan tanggapan di luar arti yang sebenarnya. (Rachmat Djoko Pradopo, 2002; 22). Lapis bunyi terbagi atas Gaya ulangan bunyi, gaya kiasan bunyi, orkestrasi bunyi, dan irama.

Analisis Lapis bunyi pada puisi “Kepada Sesosok Lelaki yang Berjalan Melintasi Senja dengan Beaumount Tua” :



Kepada Sesosok Lelaki yang Berjalan Melintasi Senja dengan Beaumount Tua
Karya : Agus Hernawan

di bawah langit senja yang sesaat lagi lenyap, sesosok lelaki
dengan misai tak rapi, ia yang dimasa kecilnya cuma sekali
jadi serdadu, berkawan senapang dari pelepah pisang
yang dikeraskan

kini berjalan melintasi senja dengan beaumont tua. hari yang lusuh
dan wajahnya bergetar seperti berkisah tentang hari hari
yang penuh singgah, setelah azan berkelebat, menuruni
tangga tangga langgar dan menyeberangi

bentangan rawa rawa, batas dunia sebelum kesedihan itu tiba
tiba dari seberang. membuat tahun tahun terbujur seperti sesosok
tubuh perempuan yang begitu kau kenal terbujur di atas ranjang
dengan darah yang mengalir dari selangkangan

sesosok lelaki dengan misai tak rapi, masa silam yang terbang
kini tak lagi kau kenali. menjadi rahasia di antara tanah, langit
dan sorga. pergi. pergi dengan beaumont tua. dengan letih,

dan kabar dari balik senja yang hilang, dari tumit bukit
tempat asal bunyi letusan dan darah yang menyusupi tanah
seperti gelap yang menyusup di malam hari,

meninggalkan sesosok tubuh yang tak lagi
dikenali, sesosok lelaki dengan misai tak rapi
yang kalah yang terkapar di tanah.

2002

Analisis :
Persajakan dalam puisi Kepada Sesosok Lelaki yang Berjalan Melintasi Senja dengan Beaumount Tua ini memang tidak begitu menonjol. Dalam puisi tersebut penyair lebih memainkan kata untuk menonjolkan makna yang ingin disampaikan.
Puisi yang menggambarkan kematian tragis seorang laki-laki memiliki kombinasi bunyi konsonan k, p, s, t yang dominan menjadikan puisi tersebut memiliki suasanau yang kacau balau, sedih dan tidak menyenangkan, seperti : Meninggalkan sesosok tubuh yang tak lagi dikenali, sesosok lelaki dengan misai tak rapi yang kalah yang terkapar di tanah.

      b.      Lapis Arti
Setiap diksi dalam puisi telah melalui pemilihan kata yang demikian ketat oleh penyair. Hal itu sangat mungkin disebabkan oleh pemadatan yang menjadi salah satu ciri puisi. Pemilihan diksi tersebut akhirnya mengakibatkan impresi tertentu pada pembacanya.
Lapis arti (units of meaning) ialah arti yang terdapat dalam tiap satuan sajak. Mulai dari fonem, kata, kalimat dan seterusnya (Rachmat Djoko Pradopo, 2002: 17). Lapis arti terbagi dalam kosakata, citraan, dan sarana retorika. Dengan menggunakan lapis ini arti dalam tiap diksi bisa semakin dekat dengan keobjektifan, tentu dengan dihubungkan dengan lapis-lapis lainnya yaitu berupa latar, objek-objek yang dikemukakan, dan dunia pengarang yang berupa cerita atau lukisan.

Analisis Lapis Arti pada puisi “Doa Orang Lapar :

Puisi Doa orang lapar
Karya WS Rendra
Kelaparan adalah burung gagak
yang licik dan hitam
jutaan burung-burung gagak
bagai awan yang hitam
Allah !
burung gagak menakutkan
dan kelaparan adalah burung gagak
selalu menakutkan
kelaparan adalah pemberontakan
adalah penggerak gaib
dari pisau-pisau pembunuhan
yang diayunkan oleh tangan-tangan orang miskin
Kelaparan adalah batu-batu karang
di bawah wajah laut yang tidur
adalah mata air penipuan
adalah pengkhianatan kehormatan
Seorang pemuda yang gagah akan menangis tersedu
melihat bagaimana tangannya sendiri
meletakkan kehormatannya di tanah
karena kelaparan
kelaparan adalah iblis

kelaparan adalah iblis yang menawarkan kediktatoran
Allah !
kelaparan adalah tangan-tangan hitam
yang memasukkan segenggam tawas
ke dalam perut para miskin
Allah !
kami berlutut
mata kami adalah mata Mu
ini juga mulut Mu
ini juga hati Mu
dan ini juga perut Mu
perut Mu lapar, ya Allah
perut Mu menggenggam tawas
dan pecahan-pecahan gelas kaca
Allah !
betapa indahnya sepiring nasi panas
semangkuk sop dan segelas kopi hitam
Allah !
kelaparan adalah burung gagak
jutaan burung gagak
bagai awan yang hitam
menghalang pandangku
ke sorga Mu

Ws Rendra
Dari Kumpulan Puisi “Sajak – Sajak Sepatu Tua” ( Pustaka Jaya – 1995 )
Lapis arti pada puisi di atas dapat dilihat sebagai berikut:
Kelaparan adalah burung gagak
yang licik dan hitam
jutaan burung-burung gagak
bagai awan yang hitam
Maksudnya yaitu panyair mengatakan bahwa kelaparan di ibaratkan bagaikan burung gagak yang bersifat licik dan hitam.
Jutaan burung-burung gagak:banyaknya terjadi kelaparan
Bagai awan hitam:kumpulan hal-hal yang jelek,kelam,dan suram
Pengulangan kata Allah dapat berarti tentang permohonan atau pengaduan penyair kepada tuhannya.
burung gagak menakutkan:gagak identik dengan hewan yang menakutkan
dan kelaparan adalah burung gagak
:kelaparan disamakan dengan burung gagak
kelaparan adalah pemberontakan
:kelaparan membuat orang memberontak
adalah penggerak gaib
:dengan tidak sengaja

dari pisau-pisau pembunuhan:mampu membunuh dengan benda-benda tajam sesama manusia karena kelaparan yang diayunkan oleh tangan-tangan orang miskin
Kelaparan adalah batu-batu karang
di bawah wajah laut yang tidur
adalah mata air penipuan
adalah pengkhianatan kehormatan
batu karang identik dengan makhluk yang menipu.Secara diam dia dapat melumpuhkan mangsanya,begitu juga dengan orang miskin yang kelaparan dengan diamnya mereka mampu membunuh sesamanya agar mendapat makanan.
Seorang pemuda yang gagah akan menangis tersedu
melihat bagaimana tangannya sendiri
meletakkan kehormatannya di tanah
karena kelaparan
kelaparan adalah iblis
kelaparan adalah iblis yang menawarkan kediktatoran
Maksudnya penyair menggambarkan penyesalan seorang pemuda yang telah terayu dengan iblis untuk melakukan kejahatan karena kelaparannya
kelaparan adalah tangan-tangan hitam
yang memasukkan segenggam tawas
ke dalam perut para miskin
Maksudnya kelaparan membuat seseorang berbuat sesuatu yang keji dengan tangan mereka.
kami berlutut
mata kami adalah mata Mu
ini juga mulut Mu
ini juga hati Mu
dan ini juga perut Mu
perut Mu lapar, ya Allah
perut Mu menggenggam tawas
dan pecahan-pecahan gelas kaca
betapa indahnya sepiring nasi panas
semangkuk sop dan segelas kopi hitam

Maksudnya penyair mengatakan bahwa kata-kata di atas adalah doa atau pengaduan kepada Allah dari orang miskin(kami)

kelaparan adalah burung gagak
jutaan burung gagak
bagai awan yang hitam
menghalang pandangku
ke sorga Mu
Maksudnya kelaparan menjadikan seseorang mirip dengan burung gagakdengan sifat yang keji sehingga menjadi cobaan setiap insan untuk dekat kepada Allah.

      c.       Lapis Dunia Imajinasi Pengarang
      Lapis satuan arti menimbulkan lapis yang ketiga, berupa objek-objek yang dikemukakan,latar, pelaku, dan dunia pengarang. Dunia pengarang adalah ceritanya, yang merupakan dunia yang diciptakan oleh si pengarang. Dalam lapis dunia pengarang puisi yang di kaji di alih bentuk menjadi prosa yang lebih mudah untuk pembaca pahami.
Penjabaran puisi di ambil dari awal bait sampai akhir bait tanpa mengubah isinya. Wujud dari lapis ketiga ialah objek-objek yang dikemukakan di dalam sajak, latar, pelaku dan dunia pengarang. (Rachmat Djoko Pradopo, 2002; 18).

Analisis puisi Tuhan, aku cinta padamu berdasarkan Teori Strata Norma yaitu pada Analisis Lapis Dunia Imajinasi Pengarang :
Tuhan,aku cinta padamu
Karya WS Rendra

Aku lemas
Tapi berdaya
Aku tidak sambat rasa sakit
atau gatal
Aku pengin makan tajin
Aku tidak pernah sesak nafas
Tapi tubuhku tidak memuaskan
untuk punya posisi yang ideal dan wajar
Aku pengin membersihkan tubuhku
dari racun kimiawi
Aku ingin kembali pada jalan alam
Aku ingin meningkatkan pengabdian
kepada Allah
Tuhan, aku cinta padamu


Lapis yang berupa latar, pelaku, objek-objek yang dikemukakan, dan dunia pengarang yang berupa cerita atau lukisan.
Aku:Aku di sini adalah penulis ataupun penyair.
Latar:Kehidupan penyair saat puisi ini dibuat.
Penyair menggambarkan kehidupannya pada saat puisi ini ditulis,Ia ingin kembali ke jalan allah.
Latar tempat:jalan alam


      d.      Lapis Dunia Dilihat dari Sudut Pandang Tertentu  yang  Implisit
      Lapis pembentuk makna dalam sajak ialah lapis ‘dunia’ yang tak dinyatakan, namun sudah    ‘implisit’ (Rachmat Djoko Pradopo, 2002; 18-19).
Analisis puisi berdasarkan Lapis Dunia Dilihat dari Sudut Pandang Tertentu  yang  Implisit :
Episode
                                                               Karya WS Rendra

Kami duduk berdua
di bangku halaman rumahnya.
Pohon jambu di halaman itu
berbuah dengan lebatnya
dan kami senang memandangnya.
Angin yang lewat
memainkan daun yang berguguran
Tiba-tiba ia bertanya:
“Mengapa sebuah kancing bajumu
lepas terbuka?”
Aku hanya tertawa.
Lalu ia sematkan dengan mesra
sebuah peniti menutup bajuku.
Sementara itu
aku bersihkan
guguran bunga jambu
yang mengotori rambutnya.


             Dilihat dari sudut pandang tertentu,pada baris pertama hingga baris ke tujuh menggambarkan suasana alam yang sejuk dengan berada di bawah pohon jambu yang lebat duduk sepasang sejoli dan melihat daun yang berguguran.Pada baris delapan hingga akhir suasana menjadi bahagia dengan kata  Aku hanya tertawa. melambangkan kebahagiaan yang sedang dirasakan.Lalu pasangan kekasaih (lelaki) mengusap rambut pasangannya dari guguran bunga jambu.
      e.       Lapis Metafisis
Terakhir dari lapisan pembentuk makna dalam puisi ialah lapis kelima. Lapisan ini disebut juga lapis metafisis yang menyebabkan pembaca berkontemplasi (Rachmat Djoko Pradopo, 2002; 19). Lapis metafisis berupa sifat-sifat metafisis seperti, tragis, mengerikan, atau menakutkan. Akan tetapi, tidak setiap karya sastra dalamnya terdapat lapis metafisika seperti itu.
Ketika menganalisis puisi, ada tiga cara yang bisa dilakukan yaitu: secara semiotik, stilistika, dan analisis fenomenologis. Dalam menganalisi puisi  Soni Farid Maulana  yang berjudul Kisah Sebelum Tidur dapat  di gunakan adalah analisis fenomenologis (strata norma) yang terdiri dari lima lapis yaitu: lapis bunyi, lapis arti, lapis  dunia imajinasi pengarang, lapis dunia dilihat dari sudut pandang tertentu yang implisit dan lapis metafisika.

Analisis Lapis Metafisika pada puisi “Gadis Peminta-minta” :

                                                            Gadis Peminta-minta
                                                    Karya : Toto Sudarto Bachtiar



Setiap kita bertemu, gadis kecil berkaleng kecil
Senyummu terlalu kekal untuk kenal duka
Tengadah padaku, pada bulan merah jambu
Tapi kotaku jadi hilang, tanpa jiwa
Ingin aku ikut gadis kecil berkaleng kecil
Pulang ke bawah jembatan yang melulur sosok
Hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlapan
Gembira dari kemayaan riang
Duniamu yang lebih tinggi dari menara katedral
Melintas-lintas di atas air kotor, tetapi yang begitu kau hafal
Jiwa begitu murni, terlalu murni
Untuk bisa membagi dukaku
Kalau kau mati, gadis kecil berkaleng kecil
Bulan di atas itu, tak ada yang punya
Dan kotaku, ah kotaku
Hidupnya tak lagi punya tanda

Penyair menceritakan bahwa ia sangat iba dan sangat sedih melihat kenyataan yang telah dialami oleh gadis-gadis kecil itu. Tapi kesedihannya tak dapat tersampaikan kepada mereka. Dan penyair pun mengingatkan kepada kita bahwa kemanusiaan gadis peminta-minta itu derajatnya sama dengan kemanusiaan kita.
Contoh :
Duniamu yang lebih tinggi dari menara katedral.


3.      SEMIOTIKA RIFFATERE
Teori Semiotik
Semiotik adalah ilmu tentang tanda-tanda. Ilmu ini menganggap bahwa fenomena sosial atau masyarakat dan kebudayaan itu merupakan tanda-tanda. Semiotik mempelajari sistem-sistem, aturan-aturan, dan konvensi-konvensi yang memungkinkan tanda-tanda tersebut mempunyai arti. Dalam lapangan kritik sastra, penelitian semiotik meliputi analisis sastra sebagai sebuah penggunaan bahasa yang bergantung pada (ditentukan) konvensi-konvensi tambahan dan meneliti ciri-ciri (sifat-sifat) yang menyebabkan bermacam-macam cara (modus) agar wacana mempunyai makna (Preminger dalam Pradopo, 2007: 119).
Untuk dapat memberi makna secara semiotik, pertama kali dapat dilakukan dengan pembacaan heuristik dan hermeneutik atau retroaktif (Riffaterre, 1978:5–6). Konsep ini akan diterapkan sebagai langkah awal dalam usaha untuk mengungkap maknadan fenomena yang terkandung dalam Jelita Senandung Hidup .
Pembacaan heuristik menurut Riffaterre (1978:5) merupakan pembacaan tingkat pertama untuk memahami makna secara linguistik, sedangkan pembacaan hermeneutik merupakan pembacaan tingkat kedua untuk menginterpretasi makna secara utuh. Dalam pembacaan ini, pembaca lebih memahami apa yang sudah dia baca untuk kemudian memodifikasi pemahamannya tentang hal itu.
Menurut Santosa (2004:231) bahwa pembacaan heuristik adalah pembacaan yang didasarkan pada konvensi bahasa yang bersifat mimetik (tiruan alam) dan membangun serangkaian arti yang heterogen, berserak-serakan atau tak gramatikal. Hal ini dapat terjadi karena kajian didasarkan pada pemahaman arti kebahasaan yang bersifat lugas atau berdasarkan arti denotatif dari suatu bahasa. Sedangkan Pradopo (2010:135) memberi definisi pambacaan heuristik yaitu pembacaan berdasarkan struktur bahasanya atau secara semiotik adalah berdasarkan konvensi sistem semiotik tingkat pertama.
Hermeneutika adalah teori tentang bekerjanya pemahaman dalam menafsirkan teks (Ricoerur dalm Ikhwan, dkk 2010 151). Cakupan teori ini 1) peristiwa pemahaman terhadap teks, 2) Persoalan yang lebih mengarah mengenai pemahaman dan interpretasi, sedangkan menurut Santosa (2004:234) Pembacaan hermeneutik adalah pembacaan yang bermuara pada ditemukannya satuan makna puisi secara utuh dan terpadu. Sementara itu, Pradopo (2010:137) mengartikan pembacaan hermeneutik sebagai pembacaan berdasarkan konvensi sistem semiotik tingkat kedua (makna konotasi). Pada tahap ini, pembaca harus meninjau kembali dan membandingkan hal-hal yang telah dibacanya pada tahap pembacaan heuristik. Dengan cara demikian, pembaca dapat memodifikasi pemahamannya dengan pemahaman yang terjadi dalam pembacaan hermeneutik.
Puisi harus dipahami sebagai sebuah satuan yang bersifat struktural atau bangunan yang tersusun dari berbagai unsur kebahasaan. Oleh karena itu, pembacaan hermeneutik pun dilakukan secara struktural atau bangunan yang tersusun dari berbagai unsur kebahasaan. Artinya, pembacaan itu bergerak secara bolak-balik dari suatu bagian ke keseluruhan dan kembali ke bagian yang lain dan seterusnya. Pembacaan ini dilakukan pada interpretasi hipogram potensial, hipogram aktual, model, dan matriks (Riffaterre,1978:5). Proses pembacaan yang dimaksudkan oleh Riffaterre (dalam Selden, 1993:126) dapat diringkas sebagai berikut:

1) Membaca untuk arti biasa.
     2) Menyoroti unsur-unsur yang tampak tidak gramatikal dan yang merintangi penafsiran mimetik yang biasa.
     3) Menemukan hipogram, yaitu mendapat ekspresi yang tidak biasa dalam teks.
     4) Menurunkan matriks dari hipogram, yaitu menemukan sebuah pernyataan tunggal atau sebuah kata yang dapat menghasilkan hipogram dalam teks.

     Analisis kajian semiotik dengan pembacaan heuristik pada puisi “Tamu”
TAMU
Karya Subagio Sastrowardoyo
Lelaki yang mengetuk pintu pagi hari
sudah duduk di ruang tamu. Aku baru
bangun. Tapi rupanya ia tidak
merasa tersinggung waktu aku belum
mandi dan menemui dia. Rambutku masih
kusut dan pakaianku hanya baju kumal
dan sarung lusuh.
“Aku mau menjemput,” katanya pasti,
seolah-olah aku sudah berjanji sebelumnya
dan tahu apa rencananya.
“Bukankah ini terlalu pagi?” tanyaku ragu.
“Dia sudah menunggu!” Ia nampak tak sabar
dan tak senang dibantah. Aku belum tahu
siapa yang ia maksudkan dengan “dia”,
tetapi sudah bisa kuduga siapa.
“Tetapi aku perlu waktu untuk berpisah
dengan keluarga. Terlalu kejam untuk
meninggalkan mereka begitu saja. Mereka
akan mencari.”
Nampaknya tamu itu begitu angkuh seperti
tak mau dikecilkan arti. Siapa dapat lolos
dari tuntutannya.
Sebelum aku sempat berbenah diri ia telah
menyeret aku ke kendaraannya dan aku dibawanya
lari entah ke mana. ke sorga atau ke neraka?”

Pembacaan heuristik pada puisi “Tamu”  adalah sebagai berikut:
     (1)“Lelaki yang mengetuk pintu pagi hari sudah duduk di ruang tamu”.
     Lelaki yang mengetuk pintu, berarti seorang laki-laki yang bertamu dengan      mengetuk pintu. Pagi hari menunjukkan waktu tamu itu datang. Sudah duduk di ruang tamu berarti tamu tersebut sudah masuk rumah dan duduk di ruang tamu.
     (2)“Aku baru bangun”
Kalimat itu menunjukkan bahwa tokoh “aku” baru bangun tidur karena hari waktu itu masih pagi.
     (3)“Tapi rupanya ia tidak merasa tersinggung waktu aku belum mandi dan menemui dia”.
Kata-kata yang diucapkan tuan rumah itu menandakan bahwa dari gelagatnya tamu itu tidak merasa tersinggung ketika tuan rumah menemuinya dalam keadaan belum mandi. Dalam norma masyarakat, menemui tamu dalam keadaan belum mandi adalah hal yang tidak sopan dan dianggap tidak menghormati tamu.
     (4)“Rambutku masih kusut dan pakaianku hanya baju kumal dan sarung lusuh”
Tuan rumah seperti menyampikan alasan bahwa ia belum siap kedatangan tamu. Keadaan tuan rumah digambarkan baru saja bangun tidur dan belum sempat mandi terlihat rambutnya kusut dan masih memakai pakaian tidurnya yaitu baju kumal dan sarung lusuh.
     (5)“Aku mau menjemput,” katanya pasti, seolah-olah aku sudah berjanji sebelumnya dan tahu apa rencananya.
Si tamu mengatakan bahwa ia akan menjemput tuan rumah seolah-olah tuan rumah sudah mempunyai janji dan mengetahui rencananya, padahal tuan rumah tidak mengetahui bahwa tamu itu akan datang dan mau menjemputnya.
     (6)“Bukankah ini terlalu pagi?” tanyaku ragu.
Tuan rumah menyatakan bahwa kedatangan tamu tersebut msih terlalu pagi. Tuan rumah tidak menyangka akan kedatangan tamu di waktu pagi.
     (7) “Dia sudah menunggu!”
“Dia sudah menunggu!” merupakan jawaban dari tamu atas pertanyaan tuan rumah. Jawaban itu menunjukkan bahwa ada seseorang yang sudah menunggu tuan rumah.
     (8) Ia nampak tak sabar dan tak senang dibantah.
Dari kata-kata tamu Dia sudah menunggu!, dan dari gelagatnya menunjukkan bahwa si tamu kelihatan tidak sabar dan tidak senang dibantah. Hal itu merupakan reaksi atas alasan yang dilontarkan tuan rumah “Bukankah ini terlalu pagi?”
     (9) Aku belum tahu siapa yang ia maksudkan dengan “dia”, tetapi sudah bisa kuduga siapa.
Ketika tamu menyatakan Dia sudah menunggu!, tuan rumah merasa bahwa ia belum tahu siapa “dia” yang dimaksudkan oleh tamu. Tetapi tuan rumah sudah menduga siapa “dia”.
     (10) “Tetapi aku perlu waktu untuk berpisah dengan keluarga. Terlalu kejam untuk meninggalkan mereka begitu saja. Mereka akan mencari.”
Tuan rumah menyadari bahwa ia akan pergi dengan tamu untuk bertemu dengan “dia”. Oleh karena itu, tuan rumah mengatakan bahwa ia perlu waktu untuk berpisah dengan keluarganya agar keluarganya tidak mencarinya. Tuan rumah merasa dirinya kejam apabila tidak berpamitan dahulu kepada keluarganya.
     (11) Nampaknya tamu itu begitu angkuh seperti tak mau dikecilkan arti.
Menanggapi permintaan tuan rumah untuk berpamitan dengan keluarganya dahulu, tamu itu merasa tidak mau tahu karena mereka harus pergi saat itu juga. Tamu itu terlihat angkuh dan seakan-akan memaksa tuan rumah utntuk segera pergi dengannya.
     (12) Siapa dapat lolos dari tuntutannya.
Menyadari sikap tamu, tuan rumah merasa bahwa ia tidak bisa menolak ajakan tamu untuk pergi saat itu juga tanpa ia sempat berpamitan kepada keluarganya.
     (13) Sebelum aku sempat berbenah diri ia telah menyeret aku ke kendaraannya dan aku dibawanya lari entah ke mana.
Sebelum tuan rumah sempat untuk bersiap-siap, tamu itu sudah menyeretnya, berarti tamu itu memaksa tuan rumah untuk pergi dengannya. Tuan rumah diajak tamu ke kendaraannya dan ia tidak tahu akan di bawa kemana.
     (14) ke sorga atau ke neraka?”
Pernyataan terakhir ini merupakan penutup narasi, kata-kata dari tuan rumah berbentuk pertanyaan, akan dibawa ia oleh tamu itu. Dibawa ke sorga atau ke neraka.

     Analisis kajian semiotik dengan pembacaan hermeneutik pada puisi “Derai-derai cemara” Karya Chairil Anwar

Derai-derai Cemara
Karya Chairil Anwar
Cemara menderai sampai jauh
Terasa hari akan jadi malam
Ada beberapa dahan di tingkap merapuh
Dipukul angin yang terpendam
Aku sekarang orangnya bisa tahan
Sudah beberapa waktu bukan kanak lagi
Tapi dulu memang ada suatu bahan
Yang bukan dasar perhitungan kini
Hidup hanya menunda-nunda kekalahan
Tambah terasing dari cinta dan sekolah rendah
Dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan
Sebelum pada akhirnya kita menyerah
Derai-derai cemara yang dipakai pengarang untuk judul sajak merupakan gambaran dari daun-daun cemara yang berguguran yang mempunyai makna tentang runtuhnya harapan tokoh sajak. Diawal kalimat menceritakan tentang cemara, cemara merupakan suatu jenis pepohonan dengan daun yang kecil dan meruncing. Digambarkan dengan suasana sore hari (hampir malam) dan beberapa dahan merapuh diterjang oleh angin malam. Merupakan penggambaran diri manusia yang mulai merapuh, dan suasana yang hamper malam menggambarkan tengtang kesadaran tentang perjalanan hidup yang pasti akan selalu berakhir dan semua yang bernyawa pasti akan mati.
Bait kedua menggambarkan kedewasaan tokoh aku, yang digambarkan dari kalimat sudah berapa waktu aku bukan kanak lagi. Penggambaran tentang pandangan si tokkoh aku yang terjadi saat dia masih kanak dan tpandangan itu tidak relevan lagi ketika dia telah beranjak dewasa atau meninggalkan masa kanak-kanaknya.
Bait ketiga merupakan penggambaran si tokoh aku tentang sebuah keterasingan. Kata jauh menggambarkan tentang cita-cita si tokoh aku yang cemerlang, akan tetapi pada kenyataannya hidup selalu penuh penderitaan dan jauh dari apa yang diharapkan oleh si tokoh aku. Kalimat Hidup hanya menunda-nunda kekalahan merupakan sebuah penggambaran tentang keputusasaan tokoh, semacam kesimpulan yang diutarakan dengan sikap mengendap, yang sepenuhnya menerima proses perubahan dalam diri manusia yang memisahkannya dari masa lalunya.

DAFTAR PUSTAKA

Pradopo, Rachmat Djoko. 2002. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Tarigan, Henry Guntur. 1993. Prinsip-Prinsip Dasar Sastra. Bandung:Angkasa.
Waluyo, Herman J. 1995. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar